29 Januari 2013

Ustadz Mu'inudinillah: Pernyataan Fahri Hamzah sangat-sangat bodoh

SOLO (Arrahmah.com) - Jika orang yang bukan ahlinya berbicara, maka yang keluar dari pernyataannya hanyalah sebuah kebodohan bahkan kesesatan. Dan inilah yang saat ini terjadi ke banyak orang yang menjadi tokoh publik, berbicara bukan dalam kapasitasnya.
Demikian menurut DR Muhammad Mu'inudinillah Basri seperti dilaporkan Islampos.com, saat ditemui Islampos di sela-sela acara refleksi perjalanan dakwah 10 tahun INSISTS di gedung pertemuan Al-Irsyad Solo Sabtu malam kemarin (26/1/2013)
Baru-baru ini seorang politisi yang dulunya aktivis dakwah bernama Fahri Hamzah (FH) 'berkicau' di akun twitternya dengan mengatakan agama tidak perlu negara dan dirinya secara tegas mengatakan ia tidak percaya dengan negara agama, telah menuai banyak pro-kontra.
Bagi orang-orang yang menjadi pendukung tokoh tersebut mengatakan apa yang dinyatakan FH adalah sesuatu yang benar, karena tidak ada negara teokrasi dalam Islam, namun bagi orang-orang yang mengkritisi pernyataan FH akan mengatakan tokoh itu telah melecehkan Islam itu sendiri dengan meminggirkan peran agama di dalam negara.
"Saya melihat hal itu sebuah kebodohan bahkan sangat-sangat bodoh," tegas DR Muhammad Mu'inudinillah Basri yang lebih dikenal sebagai Ustadz Muin.
Ustadz Muin menilai pernyataan FH adalah pernyataan yang keluar dari orang yang tidak memiliki kapasitas untuk berbicara masalah tersebut. "Inilah kalo setiap orang ngomong bukan pada kapasitasnya, walaupun itu tidak termasuk qoth'iyat dalam dinul Islam tetapi bagi orang yang terjun di dunia dakwah maka hal itu bisa jadi sesuatu yang sangat aksiomatis, meskipun di kalangan orang awam sebaliknya," ujar ustadz yang dikenal dan dihormati oleh banyak kelompok Islam yang ada di wilayah Solo ini.
Dalam penilaian Ustadz Muin, pernyataan nyeleneh FH lebih cenderung ke arah mencari sensasi karena bukan sekali dua kali dia mengeluarkan pernyataan-pernyataan 'aneh' di akun twitternya bahkan di depan media. Jadi apa yang disampaikannya kali ini jelas menunjukkan kebodohan dirinya sebagai orang yang mengaku berasal dari 'partai dakwah', jelas ustadz Muin.
Dalam penjelasannya ustadz Muin juga menyatakan bahwa pernyataan FH bisa berimplikasi sangat luas dan bisa mengarah ke arah sekularisme, karena dengan menyatakan agama tidak perlu negara itu sama saja menegaskan bahwa agama tidak boleh campur tangan dalam urusan negara. Penerapan ajaran Islam itu sendiri memerlukan kekuasaan atau institusi yang bisa menaunginya dan itu adalah negara atau apapun namanya.
"Kalau FH sebenarnya memahami apa yang disampaikannya itu salah, maka dia bisa dihukumi sebagai sosok dholun mudhil. Dan pernyataanya itu bukan hanya salah tapi kesesatan yang sangat-sangat," tegas ustadz Muin kepada Islampos.com.
Terkait para pendukung FH yang meminta orang-orang yang mengkritisi pernyataan Fh harus melakukan tabayyun ke FH langsung, ustadz Muin menjelaskan bahwa jika kita semua sepakat bahwa memang benar FH yang menyampaikan hal tersebut dan bukan sesuatu yang dibikin-bikin oleh orang lain dan kita pun susah untuk meminta dia agar mengklarifikasi pernyataannya secara langsung apalagi pernyataannya itu disampaikan secara terbuka di depan publik, maka kita tidak perlu tabayyun.
"Kita harus miliki pandangan kapan dalil itu digunakan (dalil tentang tabayyun). Ada dalil untuk kita dan ada dalil untuk orang lain. Kalau kita yang melakukan subhat maka jangan nunggu orang yang tabayyun ke kita dan juga jangan nyalahin orang yang akhirnya bersuuzhon kepada kita. Artinya kita lah yang harus memberikan klarifikasi ke orang," pungkas ustadz Muin. (bilal/arrahmah.com)

Fahri Hamzah: Saya tidak percaya negara agama, PKS tidak akan bikin negara agama

Bilal
Jum'at, 25 Januari 2013 11:03:34
JAKARTA (Arrahmah.com) - Pernyataan-pernyataan kontroversial masih terus diungkapkan politisi PKS Fahri Hamzah, setelah sebelumnya beberapa kali mengeluarkan statement yang berbeda dengan arus utama pemahaman umat Islam dan bernada liberal, seperti pernyataan "negara Islam kampungan', "tidak ada perang agama", dan "ucapan selamat natal". Kini Fahri kembali membuat pernyataan serupa. Dalam akun twitternya @fahrihamzah, Anggota DPR Komisi III tersebut mengatakan bahwa tidak ada konsep negara agama.
"Saya tidak percaya negara agama. Agama tidak perlu negara. Tuhan tak perlu you!," kicaunya.
Mantan aktifis 98 ini pun mempersilahkan jika ada partai lain ini ingin membuat negara agama, tapi tidak bagi partainya.
"kalau partai2 lain mau bikin negara agama silahkan, kalau PKS saya jamin nggak..percaya saya deh," tegasnya.
Bahkan Fahri mengklaim Undang-undang Dasar 1945 Republik Indonesia sudah sesuai dengan sunnah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
"buat PKS, Pancasila dan UUD45 sudah Islami dan sesuai dengan sunah nabi dalam konstitusi medinah….gitu toh…," tuturnya. (bilal/arrahmah.com)

Pesan Akhuna Muhammad Jibriel Abdul Rahman Untuk Para Pemuda (Sambutan Acara Grand Launching ARRMY)


Arrahmah Community (ARRMY) adalah sebuah komunitas yang terbentuk dari perkumpulan anak muda di forum Arrahmah.com. Berawal dari berdiskusi di maya, sekumpulan anak muda ini akhirnya melakukan pertemuan dan berdiskusi bagaimana caranya membentuk sebuah wadah yang bisa mengarahkan para pemuda dan pemudi agar mencintai Islam dengan sesungguhnya. Berikut ini adalah pesan akhuna Jibriel yang dibacakan kepada para hadirin sebagai prolog dalam acara Grand Launching Arrahmah Community, hari Ahad 1 November 2009.
Kepada :
Saudaraku para Mujahid dan Mujahidah yang ana cintai karena Allah….
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia dan nikmat yang telah Dia limpahkan buat kita semua. Shalawat serta salam buat junjungan besar kita, pimpinan para Mujahidin, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasalam beserta keluarganya dan para sahabatnya. Amma Ba’du…
Para pemuda Mujahid dan Mujahidah yang ana cintai karena Allah…
Semoga kalian semua dalam keadaan sehat wal afiat . Insya Allah. Dan terus bersemangat dan istiqomah dalam dakwah dan jihad. Jangan kalian lemah dan takut untuk menharungi jalan-jalan kemuliaan ini. Sungguh merugi bagi orang-orang yang memilih jalan selain jihad fie sabilillah mungkin karena takut kehilangan segenap yang ia miliki dari dunia ini. Dunia yang penuh kelalaian dan kesesatan, yang menyesatkan para penyembah hawa nafsu, harta, wanita dan tahta.
Ada sebuah ungkapan indah dari seorang mujahid muda dari India, yang bernama Esa Al Hindi, dalam buku tulisan beliau “ARMY MADINAH IN KASHMIR” : …

“Jika seseorang meninggalkan jalan terhormat ini (Jihad Fie Sabilillah) maka ia akan menebusnya. Karena kita yang memerlukan Jihad dan Jihad tidak memerlukan kita...”
Jihad tidak membutuhkan kalian, Ia benar..! kita yang memerlukan jihad ini untuk menuju jannah dengan kesyahidan. Kalian yang merasa sudah menjadi Mujahid dan Mujahidah kalau hanya baru bisa membaca buku jihad atau bersahabat dengan Mujahid, ataupun diuji oleh Allah dengan hal-hal yang memberatkan kita. Ingatlah, Sadarlah, Jihad ini membutuhkan lebih dari semua itu, butuh ketawadhuan. Semoga Allah memperkuat barisan kaum muslimin dengan jihad ini. Saling mencintai karena Allah. Dan berpesan dalam kebaikan dan kesabaran.
Ada sebuah hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wasalam yang sangat indah untuk kita renungkan, dan sekaligus teguran buat orang-orang yang meninggalkan Jihad ini. (Matan hadits ini diambil dari Rajulun Shalih, hal 446)
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasalam bersabda :
“Apabila manusia telah kikir dengan dinar dan dirham, dan berjual beli dengan system riba, dan mengikuti ekor sapi [maksudnya : sibuk dengan binatang ternak], dan meninggalkan dari jalan Allah. Maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka, yang tiada dicabutnya sehingga mereka kembali kepada Dien mereka.” (HR Ahmad – no. 4593, HR Thobroni)
Subhanallah, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wasalam menghinakan orang-orang yang meninggalkan Jihad Fie Sabilillah. Siapa lagi yang kita jadikan contoh terbaik selain beliau. Orang-orang zaman sekarang hanya pintar ngomong, dan mendefinisikan Jihad seenak dengkulnya, membagi-bagi jihad sesuai kemauan nafsunya. Hingga berani mendustakan sabda-sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wasalam. Seperti kasus Jihad melawan Hawa Nafsu. Hanya orang Bodoh sajalah yang mengatakan Jihad tidak wajib, sedangkan saudara kita dibantai dibelahan dunia lain, mereka disiksa, dipenjara, dibunuh, para muslimahnya diperkosa, dan kita hanya bisa terdiam tanpa sepatah katapun. Mana Izzah kalian wahai para Mujahid..??!! Apa anda diciptakan oleh Allah tanpa kemaluan..?! Mana rasa malu kalian..?!! Bangkitlah, dan hunuslah pedang untuk membeli Agama Allah yang telah diinjak-injak oleh para Thagut dan Kuffar laknatullah ‘Alaihim…
Syaikh Usamah bin Ladin Hafizhahulloh memberikan semangat buat para Mujahid dengan kata-katanya yang berbunyi : “Wahai engkau, kuda-kuda (tentara) Allah, teruslah bergerak dan berlari. Inilah masa sulit kita, ketahuilah bahwa pertemuan dan kerjasama anda demi membebaskan tempat-tempat suci Islam adalah langkah yang tepat menuju bersatunya Dunia Ummat di bawah Panji Laa ilaha illa Allah…”
Benar kata-kata Syaikh Usamah bin Ladin tersebut, kita harus banyak bergerak dan berlari dalam menjenjang Agama Allah ini. Anda kenal Syaikh Usamah tidak? Dan tahu nggak sepak terjang beliau dalam Jihad ini? Subhanallah, mungkin tidak cukup untuk kita ceritakan kisah beliau disini, namun Mujahid abad 21 ini tidak pernah rela darah kaum muslimin tertumpahkan. Walaupun beliau nun jauh di sana, Bumi Jihad Afghanistan, demi Allah beliau selalu berpikir tentang Umat Islam di seluruh dunia, dan menyemangatinya dengan segala kemampuannya, harta, jiwa dan darah ia persembahkan kepada Allah demi ‘Izzatul Islam.
Pertanyaanya? Apa yang telah kita berikan untuk Agama Allah? Seberapa banyak pembelaan kita untuk dien ini ? Seberapa sayangkah anda untuk saudara anda yang didzhalimi ? Dengan apakah anda membela mereka? Apa hanya dengan menadah tangan untuk berdo’a, lalu melupakan dan bersenang-senang dengan istri tercinta? Apakah kalian tahu, kematian itu sudah dekat ? Apa yang kita persiapkan untuk bekal di Akhirat sana ? Apa karena dunia menyelimuti anda, lalu anda sanggup melupakan Jihad ? WAKE UP BROTHER n SISTER…?! BANGUUUN…!! Jangan kalian lalai, selagi Allah masih memberikan kesempatan untuk hidup, gunakanlah dan manfaatkan sebaik-baiknya. Insya Allah semua akan terasa Indah pada saatnya. Allah sedang merajut yang terbaik untuk hidup kita dengan Jihad Fie Sabilillah.
Mujahid dan Mujahidah yang ana Cintai karena Allah….
Subhanallah dengan izin Allah, ARRMY bisa dilaunching dengan penuh kesederhanaan. Bagi ana, sebuah kebanggaan tersendiri walaupun ana belum bisa bersama kalian. Allah menguji ana dengan beberapa hal, yang semua ini harus ana lalui dengan ikhlash dan sabar. Dan inilah jihad ana, yang harus melaluinya dengan Ridho. Penjara bukanlah tempat terakhir kita semua.
Dan bukanlah tempat kehinaan. “Hidup Mulia atau Mati Syahid” bukan hanya sebuah Slogan saja yang dicetak dan ditempel di mana saja. Tapi itu adalah sebuah kata yang butuh konsekuensi, butuh perjuangan untuk menggapainya. Jika kita bersatu, Insya Allah semuanya akan tercapai… TAKBIRR..!!
Semoga dengan adanya ARRMY, para Pemuda Mujahid dan pemudi Mujahidah bisa berkumpul dalam ikatan Iman, Ukhuwah dan Aqidah. Untuk melanjutkan dakwah dan Jihad hingga tertegaknya Khilafah Islamiyah ‘alaa Minhajin An Nubuwah fil Ardh. Jihad ini dibutuhkan kebersamaan dalam segala hal, hingga Dien ini hanya milik Allah semata.
Asy Syahid DR. Abdullah Azzam berkata dalam bukunya Bashaairun Nashr yang dinukil dari Rojulun Shalih, hal 116 :
“Sesungguhnya jihad fie sabilillah adalah seberat-berat urusan yang dihadapi oleh manusia dan merupakan urusan yang paling sulit. Tidak mampu memikulnya kecuali hanya segelintir manusia. Oleh karenanya, Allah menyediakan balasan terhadap kesungguhan dan kepayahannya.”
Allahu Akbar..!! tidak semua manusia mampu memikulnya, dan tidak semua orang diberikan kesempatan untuk merasakan keindahan Jihad Fie Sabilillah. Maka, jadilah yang pertama dalam membela Agama Allah ini. Infakanlah harta kalian di Jalan Allah. Maka kau akan beruntung, I’dalah untuk Jihad agar selalu kuat dalam fisik dan Ilmu, Mujahid harus cerdas dan pinter dalam segala hal, karena Allah selalu memberikan yang terbaik untuk para Mujahid.
Janganlah sedih dan pula kau takut untuk melangkah, karena ketakutan itu tidak akan pernah memperlambat kematianmu. Jadilah pemberani dalam membela Agama Allah, karena dengan Keberanian akan menjadikanmu mulia di Dunia dan Akhirat serta Insya Allah kau akan mendapatkan KeSyahidan atas izinNya.
Sebelum ana mengakhiri Prolog acara yang penuh berkah ini, ada sebuah Syair yang ana kutip dari buku Abi ana Rojulun Shalih :
“Apabila ada seribu Mujahid yang sedang berjihad
Maka akulah salah seorang daripadanya
Jika ada seratus Mujahid yang sedang berjihad
Maka akulah salah seorang daripadanya
Jika ada sepuluh mujahid yang sedang berjihad
Maka akulah salah seorang daripadanya
Jika ada seorang Mujahid yang berjihad
Maka itulah Aku... itulah Akuuu...”
Buat para Mujahid dan Mujahidah yang tercinta…
Istiqomahlah, Istiqomahlah dan Istiqomah, sabar dan Ikhlas dalam menghadapi segalanya. Doakan buat para Mujahid yang telah gugur di Medan Jihad agar diberikan Al-Firdaws. Dan tangisilah diri kalian yang belum dikarunai Syahid, banyak Muhasabah, jagalah persaudaraan diantara kita. Doakan ana disini agar Istiqomah dan dimudahkan sega;a urusanya. Demi Allah, Aku Mencintai kalian Karena Allah. Ana penuh dengan kelemahan dan kekurangan, semoga semua kelemahan ini bisa diperbaiki. Insya Allah. Yang benar hanya dari Allah, yang salah dan khilaf dari kelemahan diri ana.
Wabilah Taufik wal Hidayah…


Memilih Yang Lebih Muda

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disuruh memilih di antara dua perkara, niscaya beliau memilih yang lebih mudah di antara keduanya, selama itu tidak dosa. Adapun jika itu adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh dari dosa.” (Muttafaq Alaih)[1]
Demikianlah kebiasaan Nabi jika disuruh memilih di antara dua perkara, beliau pasti memilih yang lebih mudah di antara keduanya. Ini adalah manhaj beliau dalam dakwah dan pengajarannya, beliau tidak ingin mempersulit umatnya. Beliau ingin agar umatnya mudah dan ringan dalam menjalankan syariat agamanya, beliau ingin membuat mereka gembira dan tidak ingin membuat mereka lari ketakutan dari ajaran Islam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا .
“Mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari.” (Muttafaq Alaih)[2]
Menurut DR. Yusuf Al-Qaradhawi, memilih yang lebih mudah (taysir) dalam melaksanakan ajaran agama merupakan suatu keharusan, karena hal ini merupakan sesuatu yang dituntut oleh syariat itu sendiri. Bukan dikarenakan tuntutan realitas atau menyesuaikan dengan zaman, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Dan, pada dasarnya syariat Islam berdiri di atas prinsip kemudahan dan keringanan, sebagaimana disebutkan dengan sangat jelas dalam ayat-ayat Al-Qur‘an dan Sunnah nabawiyah.[3]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Dia tidak ingin menyulitkanmu.” (Al-Baqarah: 185)
Dalam hadits pertama disebutkan, bahwa beliau memilih yang lebih mudah di antara dua perkara, maksudnya yaitu dalam dua perkara yang sama, bukan dalam dua perkara yang berbeda. Karena hal ini jelas tidak mungkin. Dan jika ada dua perkara yang sama di hadapan beliau, baik dalam urusan dunia ataupun urusan akhirat, maka beliau akan memilih yang lebih mudah dan ringan di antara keduanya, selama hal tersebut tidak mempunyai konsekuensi dosa atau maksiat.
Lebih jelasnya, kita ambil contoh misalnya; memilih antara beribadah dengan memberat-beratkan diri hingga dapat membuat badan sakit dan beribadah dengan porsi yang sedang tetapi intens, maka beliau memilih yang terakhir. Atau jika beliau disuruh memilih antara harus berperang atau berdamai, maka beliau akan memilih berdamai jika memungkinkan. Atau jika disuruh memilih antara berpuasa dalam berjalanan atau berbuka, tentu beliau memilih berbuka. Demikian dan seterusnya.
Terhadap orang yang senang mempersulit dan memberat-beratkan dalam melaksanakan agamanya, baik bagi dirinya ataupun bagi orang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan mereka,
« هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ » . قَالَهَا ثَلاَثًا .
“Hancurlah orang-orang yang suka memberat-beratkan!” Beliau mengatakannya tiga kali.” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud)[4]
Imam An-Nawawi mengatakan, bahwa al-mutanaththi’un di sini, yaitu mereka yang senang mempersulit dan memberat-beratkan diri dalam urusan agama yang tidak semestinya.[5]
* * *



[1] Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Manaqib, Bab Shifat An-Nabiy (3296); dan Shahih Muslim, Kitab Al-Fadha‘il, Bab Muba’adatihli Al-Atsam wa Ikhtiyarih min Al-Mubah Ashalah (2327).
[2] Al-Lu‘lu‘ wa Al-Marjan 2/200-201, hadits nomor 1130 dan 1131, dari Mu’adz bin Jabal, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhum.
[3] Taysir Al-Fiqh li Al-Muslim Al-Mu’ashir/DR. Yusuf Al-Qaradhawi/hlm. 9/Maktabah Wahbah – Kairo/cet. I/th. 1999.
[4] Shahih Muslim, Kitab Al-‘Ilm, Bab Halaka Al-Mutanaththi’un (2670).
[5] Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan hadits nomor 144.

Taat Kepada Suami Harus Didahulukan Daripada Taat Orang Tua


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk RasulillahShallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Al-Qur'an dan sunnah menerangkan, suami memiliki hak yang sangat besar atas istrinya. Istri harus taat kepada suaminya, melayani dengan baik, dan mendahulukan ketaatan kepadanya daripada kepada orang tua dan saudara-saudara kandungnya sendiri. Bahkan suami menjadi surga dan nerakanya.
Allah Ta'ala berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. Al-Nisa': 34)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ
"Tidak boleh (haram) bagi wanita untuk berpuasa sementara suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya. Istri juga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Dan harta yang ia nafkahkan bukan dengan perintahnya, maka setengah pahalanya diberikan untuk suaminya." (HR. Al-Bukhari)
Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Abu HurairahRadhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Apabila wanita menunaikan shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya; maka disampaikan kepadanya: masuklah surga dari pintu mana saja yang kamu mau." (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami', no. 660)
Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits yang dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Saat Mu'adz tiba dari Syam, ia bersujud kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Beliau berkata: "Apa ini wahai Mu'adz?"
Mu'adz menjawab, "Aku telah datang ke Syam, aku temui mereka bersujud kepada para pemimpin dan penguasa mereka. Lalu aku berniat dalam hatiku melakukan itu kepada Anda."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Jangan lakukan itu, kalau saja aku (boleh) memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah, pastilah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang istri disebut telah menunaikan hak Rabb-nya sehingga ia menunaikan hak suaminya. Kalau saja suami memintanya untuk melayaninya sementara ia berada di atas pelana unta, maka hal itu tidak boleh menghalanginya." (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Maknanya: hadits tersebut memerintahkan kepada para istri untuk mentaati dan siap melayani suaminya. Tidak boleh ia menolak ajakan suami walau ia sudah siap melakukan perjalanan, yakni sudah berada di atas pelana untanya, maka hal ini lebih ditekankan saat ia berada dalam keadaan selain itu.
Diriwayatkan dari al-Husain bin Mihshan, bahwa bibinya pernah datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallamkarena satu keperluan. Saat sudah selesai, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepadanya, "apakah kamu punya suami?"
Ia menjawab, "Ya."
Beliau bertanya lagi, "Bagaimana sikapmu terhadapnya?"
Ia menjawab, "Aku tidak kurangi hak-nya kecuali apa yang aku tidak mampu."
Beliau bersabda, "Perhatikan sikapmu terhadapnya, karena ia surga dan nerakamu." (HR. Ahmad dan Al-Hakim, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al;Targhib wa al-Tarhib, no. 1933)
Maksudnya, suamimu itu adalah sebab kamu bisa masuk surga jika kamu tunaikan hak-nya. Dan suamimu itu menjadi sebab kamu masuk neraka jika kamu lalaikan hal itu.
. . . suamimu itu adalah sebab kamu bisa masuk surga jika kamu tunaikan hak-nya. Dan suamimu itu menjadi sebab kamu masuk neraka jika kamu lalaikan hal itu. . .
Taat Suami VS Taat Orang Tua
Sering terjadi kasus, orang tua wanita –baik bapak atau ibunya- menuntut kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berseberangan dengan tuntutan suami. Hal ini sering menjadi dilema dan masalah berat bagi sebagian wanita. Pada saat seperti ini, mana yang harus lebih didahulukan oleh wanita muslimah?
Apabila ketaatakan kepada suami berseberangan dengan ketaatan kepada orang tua, maka bagi seorang wanita (istri) muslimah wajib mendahulukan ketaatan kepada suaminya. Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang wanita yang memiliki suami dan seorang ibu yang sedang sakit: Ketaatan kepada suaminya lebih wajib atas dirinya daripada mengurusi ibunya, kecuali jika suaminya mengizinkannya." (Syarh Muntaha al-Iradat: 3/47)
Di dalam kitab al-Inshaf (8/362), "Seorang wanita tidak boleh mentaati kedua orang tuanya untuk berpisah dengan suaminya, tidak pula mengunjunginya dan semisalnya. Bahkan ketaatan kepada suaminya lebih wajib."
. . . Apabila ketaatakan kepada suami berseberangan dengan ketaatan kepada orang tua, maka bagi seorang wanita (istri) muslimah wajib mendahulukan ketaatan kepada suaminya. . .
Terdapat satu hadits dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam –menurut sebagian ulama statusnya hasan- yang meguatkan hal ini, dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Siapakah wanita paling besar haknya atas wanita?" Beliau menjawab: "Suaminya."
Aku bertanya lagi, "Lalu siapa manusia yang paling besar haknya atas laki-laki?" Beliau menjawab, "ibunya." (HR. al-Hakim, namun hadits ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam Dhaif al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1212, beliau mengingkari penghasanan hadits tersebut oleh al-Mundziri)
Dengan demikian maka, bagi wanita haruslah lebih mendahulukan ketaatan kepada suami daripada ketaatan kepada kedua orang tuanya. Namun jika keduanya bisa ditunaikan secara sempurna dengan izin suaminya, maka itu yang lebih baik. Wallahu Ta'ala A'la

Blog Archive